Kabar Pers Bhayangkara – Surabaya — Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN Medokan Semampir 1, Kota Surabaya, menjadi perhatian sebagian orang tua/wali murid.
Perhatian tersebut mencuat setelah menu MBG yang disajikan kepada siswa pada 23–24 Januari 2026 dinilai belum sepenuhnya mencerminkan prinsip gizi seimbang bagi anak usia sekolah dasar.
Berdasarkan informasi yang dihimpun media ini dari beberapa orang tua siswa yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan, menu MBG selama dua hari tersebut terdiri dari roti, ketela rebus, empat butir buah kelengkeng, dan satu buah pisang. Menu tersebut dibagikan kepada siswa sebagai asupan makan selama kegiatan belajar mengajar berlangsung.
Salah satu orang tua wali murid menyampaikan bahwa pihaknya tidak mempermasalahkan program MBG secara keseluruhan, mengingat tujuan program dinilai sangat baik bagi tumbuh kembang anak. Namun, ia berharap komposisi menu dapat disesuaikan agar lebih seimbang.
“Kami mendukung program ini karena niatnya baik. Hanya saja, kami berharap ke depan menunya bisa lebih lengkap, misalnya ada lauk berprotein, supaya kebutuhan gizi anak-anak benar-benar terpenuhi,” ujarnya.
Orang tua lainnya juga menyampaikan harapan serupa. Menurutnya, MBG memiliki peran penting dalam menunjang konsentrasi belajar siswa, sehingga kualitas dan variasi menu menjadi faktor yang patut diperhatikan.
Sebagaimana diketahui, Program Makan Bergizi Gratis merupakan program nasional yang bertujuan mendukung pemenuhan gizi seimbang, meningkatkan kesehatan, serta membantu daya fokus peserta didik. Dalam pedoman umum, menu MBG dianjurkan mengandung unsur karbohidrat, protein, sayur, buah, dan air minum, dengan porsi yang disesuaikan dengan usia anak.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang (Kabid) terkait di Dinas Pendidikan Kota Surabaya saat dikonfirmasi menyampaikan bahwa pada prinsipnya pelaksanaan MBG di sekolah mengacu pada pedoman yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat dan dikoordinasikan dengan pihak penyedia.
Menurutnya, dinas pendidikan bersifat melakukan pengawasan dan evaluasi secara umum terhadap pelaksanaan program di satuan pendidikan.
“Masukan dari orang tua tentu menjadi perhatian. Prinsipnya, program MBG harus berjalan sesuai ketentuan dan memenuhi unsur gizi yang dianjurkan. Jika ada catatan di lapangan, itu bisa menjadi bahan evaluasi bersama dengan pihak terkait,” ujar Kabid Dinas Pendidikan Kota Surabaya.
Ia juga menegaskan bahwa pelaksanaan teknis penyediaan menu dilakukan oleh pihak pelaksana yang ditunjuk sesuai mekanisme program, namun tetap berada dalam koridor pengawasan lintas sektor.
Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, pihak SDN Medokan Semampir 1 belum memberikan keterangan resmi terkait standar menu MBG yang disajikan selama dua hari tersebut.
Media ini menegaskan tetap membuka ruang klarifikasi dan hak jawab kepada pihak sekolah, penyedia program, maupun instansi terkait, sesuai ketentuan Undang-Undang Pers dan Kode Etik Jurnalistik.
