
BOJONEGORO – Di tengah perkembangan dunia medis modern, praktik pengobatan alternatif berbasis pendekatan spiritual masih menjadi pilihan sebagian masyarakat sebagai bentuk ikhtiar pelengkap dalam menjaga kesehatan.
Di Kabupaten Bojonegoro, dua praktisi yang cukup dikenal masyarakat, Goes Pri Tombo Loro dan Master Sholeh, terus memberikan pelayanan dengan pendekatan yang mengedepankan nilai kemanusiaan, empati, dan kekeluargaan. Keduanya didampingi oleh asisten, Ki Anwar, dalam menjalankan aktivitas pelayanan kepada masyarakat.
Berlokasi di Jalan Serma Abdullah No. 51, Pacul, Bojonegoro, praktik ini tidak hanya melayani pengobatan alternatif, tetapi juga menjadi ruang konsultasi dan pembinaan spiritual bagi masyarakat yang membutuhkan.
Goes Pri menyampaikan bahwa kegiatan yang dilakukan merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat.
“Kami hanya berusaha membantu sesama dengan apa yang kami miliki. Namun kami selalu mengingatkan bahwa kesembuhan tetap atas izin Tuhan, dan kami hanyalah perantara,” ujarnya.
Ia juga menegaskan pentingnya masyarakat tetap menjadikan pengobatan medis sebagai langkah utama. Pendekatan alternatif, menurutnya, hanyalah sebagai pelengkap dalam proses penyembuhan.
Hal senada disampaikan Master Sholeh yang menyebut bahwa metode yang digunakan lebih menitikberatkan pada doa, pendampingan spiritual, serta penguatan mental pasien.
“Pendekatan kami lebih kepada energi doa dan dukungan spiritual, agar pasien memiliki kekuatan batin dalam menghadapi kondisi yang dialami,” jelasnya.
Metode yang dikenal sebagai pendekatan “energi doa” ini dikombinasikan dengan doa-doa khusus serta pendampingan non-medis. Praktik ini berkembang secara alami dari rekomendasi masyarakat, tanpa promosi berlebihan.
Sejumlah warga yang pernah menjalani ikhtiar melalui pendekatan tersebut mengaku merasakan manfaat, meskipun hasilnya berbeda pada setiap individu.
“Saya datang dalam kondisi lelah dan banyak pikiran. Setelah beberapa kali konsultasi, rasanya lebih tenang dan pikiran lebih ringan,” ungkap Siti (45), warga Bojonegoro.
Hal serupa disampaikan Budi (38), yang mengaku mendapatkan motivasi dan semangat baru.
“Bukan hanya soal sakit fisik, tapi lebih ke penguatan batin. Jadi lebih semangat menjalani aktivitas,” katanya.
Meski demikian, para praktisi terus mengingatkan bahwa setiap bentuk pengobatan harus disikapi secara bijak. Mereka menekankan agar masyarakat tidak meninggalkan penanganan medis, terutama untuk penyakit yang memerlukan diagnosis dan perawatan dokter.
Pengamat kesehatan masyarakat menilai bahwa keberadaan pengobatan alternatif dapat menjadi pelengkap, selama tidak menggantikan fungsi medis. Edukasi kepada masyarakat menjadi kunci agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam memilih metode pengobatan.
Di sisi lain, masyarakat berharap layanan seperti ini tetap berjalan dengan mengedepankan transparansi, tanggung jawab, serta tidak memberikan janji kesembuhan yang berlebihan.
“Kami berharap ada keseimbangan. Alternatif boleh, tapi tetap harus ada batasan dan edukasi,” ujar salah satu warga.
Dengan pendekatan yang mengedepankan empati, nilai spiritual, dan edukasi, Goes Pri dan Master Sholeh berharap dapat terus memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Mereka juga membuka ruang konsultasi bagi warga yang ingin mendapatkan informasi lebih lanjut.
Keberadaan pengobatan alternatif diharapkan dapat menjadi pelengkap dalam upaya menjaga kesehatan, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, rasionalitas, dan keseimbangan antara medis dan non-medis.
__


